Sabtu, 07 Januari 2017

KLASIFIKASI dan SIFAT MEKANIK MATERIAL

Klasifikasi Material
Penggelompokkan atau klasifikasi material merupakan sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, dengan adanya penggelompokan ini kita dapat memilih, menggunakan suatu material sesuai dengan yang diperlukan. Secara umum khususnya dalam bidang teknik, material teknik dikelompokkan pada tiga kelompok, yakni: logam, non logam, dan campuran (komposit).
A.      Logam
Material logam merupakan salah satu material yang paling banyak digunakan pada bidang industri dan teknik. Secara garis besar logam dikelompokkan pada dua kelompok, yakni: logam ferro dan logam non ferro. Logam ferro meruapakan logam yang mengandung unsur besi (ferro), seperti: besi, baja, dan besi cor . Sedangkan, Logam non ferro merupakan logam yang tidak mengandung unsur besi didalam kandungannya, seperti, aluminum, tembaga, magnesium, dan paduan-paduannya.

B.       Non logam atau material bukan logam
Material ini adalah material yang tidak mengandung unsur logam. Seperti: Polimer, Keramik, Kaca dan karet
·   Polimer merupakan senyawa yang besar yang terbentuk dari hasil penggabungan sejumlah unit unit molekul yang kecil. Polimer meliputi: thermoset dan thermoplastic yang di dalamnya termasuk juga karet dan plastic.
·   Keramik merupakan suatu bentuk bahan yang terbuat dari tanah liat dan bahan tambahan lainnya yang diproses dengan cara pembakaran, material ini meliputi keramik konvensional dan keramik modern. Seperti: gerabah, genting ubin, alat rumah tangga, semikonduktor, dan sampai komponen elektronik sampai pada komponen pesawat luar angkasa yang tahan temperatur tinggi.
·    Kaca (Glass) banyak dipakai karena sifat-sifatnya yang transparan, non toxic, inert (tidak bereaksi dengan berbagai bahan kimia), tidak mengakibatkan kontaminasi dan cukup kuat/keras. Kaca dibuat dari campuran berbagai oksida. Pada umumnya kaca adalah non kristalin/amorph, atom/molekulnya tidak tersusun menurut suatu pola tertentu seperti halnya logam, tetapi berupa suatu network tiga dimensi yang acak. Sebagian dari oksida itu berfungsi sebagai glass former yaitu yang membentuk network dari kaca. Sebagian berfungsi sebagai modifier biasanya akan memperlemah ikatan pada network sehingga menurunkan titik leburnya. Ada juga yang berfungsi sebagai intermediates.

C.       Komposit
Material komposit merupakan gabungan sebagai gabungan beberapa bahan, ataupun suatu jenis bahan baru hasil rekayasa yang terdiri dari dua atau lebih bahan dimana sifat masing-masing bahan berbeda satu sama lainnya baik itu sifat kimia maupun fisikanya dan tetap terpisah dalam hasil akhir bahan tersebut. Sebagai contoh: beton, ban mobil, dan fiberglass. Beton merupakan komposit gabungan keramik dengan logam, yang bila beton dipotong masih termati atau terlihat logam baja dan tembok sebagai bahan keramiknya. Ban mobil merupakan bahan komposit gabungan polimer dan logam, yang bila potong, akan terlihat karet sebagai bahan polimer dan kawat baja sebagai bahan logamnya. Fiberglass merupakan bahan komposit gabungan polimer dengan keramik, dimana pada bahan tersebut terlihat serat-serat sebahan bahan keramiknya, dan plastik sebagai bahan polimernya yang juga merupakan matriknya.

SIFAT MEKANIK MATERIAL
       Sifat mekanik Material adalah Respon material terhadap beban meknaik atau kemampuan suatu bahan atau material dalam menerima beban. Sifat material ini sangat penting untuk diketahui terutama dalam pemilihan dan pembuatan suatu material atau produk, penggunaan bahan-bahan teknik secara tepat dan efisien akan meningkatkan nilai dari suatu material. Sifat-sifat mekanik material diantaranya sebagai berikut:
A.    Kekuatan (Strenght)
Merupakan kemampuan bahan untuk menahan tegangan tanpa kerusakan atau kemampuan suatu material dalam menerima beban, semakin besar beban yang mampu diterima oleh material maka benda tersebut dapat dikatakan memiliki kekuatan yang tinggi. Kurva yang diberi label strongest (terkuat) digambarkan sebagai kurva yang memiliki nilai sb-y tertinggi. Kemudian kurva yang diberi label Toughest adalah kurva yang memiliki nilai ketangguhan tertinggi. Ketangguhan suatu material dapat dilihat dari luas daerah sibawah kurva stress-strain nya. Semakin besar luas daerah di bawah kurva, maka material tersebut dikatakan semakin tangguh. Lalu untuk keuletan material digambarkan dari kurva yang diberi label most ductile. Keuletan menggambarkan bahwa material tersebut sulit untuk mengalami patah (fracture) yang dalam kurva dapat dilihat sebagai kurva yang memiliki nilai sumbu-x (strain / regangan) tertinggi.
Dalam Sifat ini bisa dikelompokkan lagi menjadi beberapa, seperti:
·    Tensile Strenght (Kekuatan Tarik) adalah nilai yang paling sering dituliskan sebagai hasil suatu uji tarik, tetapi pada kenyataannya nilai tersebut kurang bersifat mendasar dalam kaitannya dengan kekuatan material. Untuk logam ulet, kekuatan tariknya harus dikaitkan dengan beban lmaksimum, diman logam dapat menahan bebansesumbu untuk keadaan yang sangat terbatas. Pada tegangan yang lebih komplek, kaitan nilai tersebut dengan kekuatan logam, kecil sekali kegunaannya. Kecenderungan yang banyak ditemui adalah, mendasarkan rancangan statis logam ulet pada kekuatan luluhnya. Tetapi karena jauh lebih praktis menggunakan kekuatan tarik untuk menentukan kekuatan bahan, maka metode ini lebih banyak dipakai.Kekuatan tarik adalah besarnya beban maksimum dibagi dengan luas penampang lintang awal benda uji.
·   Compressive Strength( Kekuatan tekan) Kekuatan tekan ini adalah kemampuan bahan untuk menahan beban tekan tanpa hancur atau rusak. bahan tersebut dalam tekan.
·   Shear Strength ( Kekuatan Geser) Meruapakan kemampuan bahan untuk menahan offset atau melintang beban tanpa pecah terjadi. Keling menghubungkan dua bar yang ditampilkan di geser sementara bar sendiri dalam ketegangan. Perhatikan bahwa keling masih akan di geser jika bar berada di kompresi.

B.     Kekenyalan (Elastisitas)
Elastisitas adalah sifat kemampuan bahan untuk kembali ke bentuk dan ukuran dan bentuk semula setelah diberi beban yang menyebabkan atau cenderung menyebabkan deformasi (perubahan bentuk), setelah beban dihilangkan. Sifat ini penting pada semua struktur yang mengalami beban yang berubah-ubah.

C.     Plasticity
plastisitas adalah mnyatakan kemampuan bahan untuk mengalami sejumlah deformasi permanen (deformasi plastis) tanpa terjadi kerusakan/pecah/putus. kecenderungan dari bahan untuk menjalani deformasi permanen di bawah beban ketika dikompresi.

D.      Kekakuan (Stiffness)
Merupakan kemampuan sifat yang didasarkan pada kemampuan bahan untuk menerima beban tanpa mengakibatkan terjadinya deformasi. Ukuran kekakuan suatu bahan adalah modulus elastisitasnya, yang diperoleh dengan membagi tegangan satuan dengan perubahan bentuk satuan-satuan yang disebabkan oleh tegangan tersebut.

E.     Keliatan (Ductility)
Ductility adalah sifat dari suatu bahan yang memungkinkannya bisa dibentuk secara permanen melalui perubahan bentuk yang besar tanpa kerusakan, Misalnya seperti tembaga yang dibentuk menjadi kawat. Tembaga, alluminium, dan besi tempa termasuk logam-logam yang ulet. Ukuran keliatan adalah presentase pertambahan panjang suatu spesium uji patah. Keliatan diperlukan pada batang atau bagian yang mungkin mengalami beban yang besar secara tiba-tiba, karena perubahan bentuk yang berlebihan akan memberikan tanda-tanda ancaman kerusakan.

F.      Kemamputempaan (Malleability)
Merupakan sifat suatu bahan yang bentuknya bisa diubah dengan memberikan tegangan-tegangan tekan kerusakan, seperti misalnya tembaga, aluminium, atau besi tempa yang dipukul menjadi berbagai bentuk atau baja yang dirol menjadi bentuk struktur atau lembaran.

G.    Kekerasan (Hardness)
Kekerasan adalah kemampuan suatu bahan untuk tahan terhadap tekik atau kikisan atau Kekerasan dapat diartikan ketahan suatu material terhadap deformasi lokal, misalkan ketahanan terhadap goresan. Bila suatu material digores maka yang akan menerima beban adalah bagian permukaannya saja bukan keseluruhannya, itulah mengapa goresan dikatakan hanya menghasilkan deformasi lokal. Kekerasan umumnya diukur dengan beberapa pengujian, seperti : uji Brinell, Vickers dan Rockwell

H.    Daya lenting (Resilience)
merupakan sifat bahan yang mampu menyerap energi yang terjadi akibat beban benturan atau pukulan secara tiba-tiba tanpa menyebabkan perubahan bentuk yang permanen. Sifat ini pada baja digunakan pada pegas, seperti pegas mobil, kereta api, jam dan sebagainya dimana energi harus cepat diserap tanpa menyebabkan perubahan bentuk permanen. Daya lenting kadang-kadang disebut sebagai “keuletan elastis”, mengingat energi harus diserap tanpa menegangkan bahan diluar batas elastisitasnya. Ukuran daya lenting adalah jumlah energi di mana volume satuan dari bahan telah menyerap tegangan sampai batas elastisnya.

I.       Keuletan (Toughness)
Keuletan adalah sifat dari suatu bahan yang memungkinkan menyerap sejumlah energi pada tegangan yang tinggi tanpa mengaibatkan terjadinya kerusakan, yang biasanya di atas batas elastis. Karena di atas batas elastis, tegangan tersebut akan menyebabkan perubahan bentuk permanen. Besi tempa, misalnya, adalah ulet, oleh karena itu dapat dibengkokkan tanpa mengalami kerusakan.

J.       Kemuluran (Creep)
Kemuluran merupakan sifat yang menyebabkan beberapa bahan pada tegangan konstan mengalami perubahan bentuk dengan perlahan, tetapi makin lama bertambah dalam suatu selang waktu. Kemuluran terjadi akibat dari perubahan waktu.

K.    Getas
Getas dari suatu material dapat diartikan ketidak mampuan suatu material untuk berdeformasi plastis. Material yang getas berarti bila diberi suatu beban dia hanya akan berdeformasi elastis, dan selanjutnya akan mengalami patah (fracture).

L.     Mampu mesin (Machinability)
Machinability adalah kesiapan suatu bahan dibentuk tertentu dengan alat-alat pemotong. Sifat sifat diatas adalah sifat mekanik suatu material. sifat mekanik itu sendiri ada karena ada suatu beban pada material tersebut. untuk mengetahui sifat tersebut dapat dilakukan beberapa pengujian material.

M.    Kelelahan (Fatigue)
Merupakan kecenderungan dari material untuk rusak bila menerima tegangan yang masih dibawah batas elastisnya yang bekerja berulang-ulang.




Sumber:
http://blog.ub.ac.id/sidiqdarmawan/2012/01/09/sifat-mekanik-suatu-material/
http://staff.unila.ac.id/atusi/files/2013/03/Sifat-Material.pdf
http://engineershandbook.com/Materials/mechanical.htm
http://dialegteknik.blogspot.com/2013/03/klasifikasi-dan-sifat-material.html
http://en.wikipedia.org

 Terima Kasih :)


Minggu, 29 November 2015

Instalasi Penanganan Pencemaran Air Limbah

BAB I
PENDAHULUAN


1.1       Latar Belakang
      Pengelolaan     lingkungan     termasuk     pencegahan,     penanggulangan kerusakan, pencemaran, dan pemulihan kualitas lingkungan. Upaya  pengelolaan lingkungan yang ditujukan untuk mencegah dan atau memperkecil dampak negatif yang dapat timbul dari kegiatan produksi dan jasa di berbagai sektor industri belum berjalan secara terencana. Biaya pengolahan dan pembuangan limbah semakin mahal  dan  dana pembangunan, pemeliharaan fasilitas bangunan air limbah yang terbatas, menyebabkan perusahaan enggan menginvestasikan dananya untuk pencegahan kerusakan lingkungan, dan anggapan bahwa biaya untuk  membuat unit IPAL merupakan beban biaya yang besar yang dapat mengurangi keuntungan perusahaan.Tingkat pencemaran baik kualitas maupun kuantitas semakin meningkat, akibat perkembangan penduduk dan ekonomi, termasuk industri di sepanjang sungai yang tidak melakukan pengelolaan air limbah industrinya secara optimal.Perilaku sosial masyarakat dalam hubungan dengan industri memandang bahwa sumber pencemaran di sungai adalah berasal dari buangan industri, akibatnya isu lingkungan sering dijadikan  sumber konflik untuk melakukan tuntutan kepada industri berupa perbaikan lingkungan, pengendalian pencemaran, pengadaan sarana dan prasarana yang rusak akibat kegiatan industri.Adanya Peraturan Pemerintah tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian  pencemaran air nomor: 82 Tahun 2001, meliputi standar lingkungan, ambang batas pencemaran yang diperbolehkan, izin pembuangan limbah cair, penetapan sanksi administrasi maupun pidana belum dapat menggugah industri untuk melakukan pengelolaan air limbah.


1.2              Masalah dan Batasan Masalah
1.2.1        Masalah
Perumusan masalah pada penulisan ini menjelaskan tentang pengolahan dan instalasi penanganan pencemaran air limbah yang baik dan benar.

1.2.2        Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah diperlukan agar tidak menyimpang dalam pembahasan mengenai semua permasalahan. Berikut ini adalah pembatasan yang diperlukan untuk membatasi masalah-masalah tersebut :
1)      Penanganan pencemaran limbah cair
2)      Tidak merugikan di sekitar daerah tersebut
3)      Menggunakan metode-metode yang baik dan benar.

1.3       Tujuan Penulisan
Penulisan laporan akhir praktikum ini memiliki tujuan-tujuan yang diharapkan bisa membantu dan bermanfaat bagi para praktikum. Tujuan-tujuan dari laporan akhir praktikum saya adalah sebagai berikut :
1)      Sebagai salah satu syarat dan pelengkap dalam mata kuliah Teknik Lingkungan dan AMDAL(Softskill).
2)      Mempelajar mengenai pengolahan limbah yang baik dan benar.
3)      Mengetahui cara bekerja dengan baik sesuai dengan keselamatan kerja.

1.4              Manfaat Penulisan
1)      Penulis dan pembaca dapat mengetahui tentang proses pengerjaan pengolahan limbah.
2)      Penulis dan pembaca dapat mengetahui komponen-komponen yang digunakan.
3)      Memberikan pengetahuan tentang proses penanganan limbah cair

1.6        Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan dalam membahas dan memahami keseluruhan dari isi penyusunan laporan akhir proses produksi ini, penulis menggunakan sistematika penyusunan dari masing-masing bab adalah sebagai berikut:


BAB  I         Pendahuluan
                     Bab ini merupakan pendahuluan dari penyusunan laporan akhir proses produksi yang berisikan latar belakang, masalah dan  batasan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB  II        Landasan Teori
                             Bab ini menjelaskan mengenai materi dan teori yang melandasi penyusunan  penulisan, isi materi.
BAB  III      Penutup
                   Bab ini berisikan kesimpulan dan saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi para pembaca.



BAB II
LANDASAN TEORI

2.1       Air Limbah
Limbah merupakan bahan buangan yang berbentuk cair, gas dan padat yang mengandung bahan kimia yang sukar untuk dihilangkan dan berbahaya sehingga air limbah tersebut harus diolah agar tidak mencemari dan tidak membahayakan kesehatan lingkungan.
Air limbah yaitu air dari suatu daerah permukiman yang telah dipergunakan untuk berbagai keperluan, harus dikumpulkan dan dibuang untuk menjaga lingkungan hidup yang sehat dan baik.
Unsur – unsur dari suatu sistem pengolahan air limbah yang modern terdiri dari :
1. Masing – masing sumber air limbah
2. Sarana pemrosesan setempat
3. Sarana pengumpul
4. Sarana penyaluran
5. Sarana pengolahan, dan
6. Sarana pembuangan.

Dan dua faktor yang penting yang harus diperhatikan dalam sistem pengolahan air limbah yaitu jumlah dan mutu.
Ciri- Ciri Air Limbah
Disamping kotoran yang biasanya terkandung dalam persediaan air bersih air limbah mengandung tambahan kotoran akibat pemakaian untuk keperluan rumah tangga, komersial dan industri. Beberapa analisis yang dipakai untuk penentuan ciri – ciri fisik, kimiawi, dan biologis dari kotoran yang terdapat dari air limbah.
  • Ciri-ciri fisik
Ciri – ciri fisik utama air limbah adalah kandungan padat, warna, bau, dan suhunya.
Bahan padat total terdiri dari bahan padat tak terlarut atau bahan padat yang terapung serta senyawa – senyawa yang larut dalam air. Kandungan bahan padat terlarut ditentukan dengan mengeringkan serta menimbang residu yang didapat dari pengeringan.
Warna adalah ciri kualitatif yang dapat dipakai untuk mengkaji kondisi umum air limbah. Jika warnanya coklat muda, maka umur air kurang dari 6 jam. Warna abu – abu muda sampai setengah tua merupakan tanda bahwa air limbah sedang mengalami pembusukanatau telah ada dalam sistem pengumpul untuk beberapa lama. Bila warnanya abu – abu tua atau hitam, air limbah sudah membusuk setelah mengalami pembusukan oleh bakteri dengan kondisi anaerobik.
Penentuan bau menjadi semakin penting bila masyarakat sangat mempunyai kepentingan langsung atas terjadinya operasi yang baik pada sarana pengolahan air limbah. Senyawa utama yang berbau adalah hidrogen sulfida, senyawa – senyawa lain seperti indol skatol, cadaverin dan mercaptan yang terbentuk pada kondisi anaerobik dan menyebabkan bau yang sangat merangsang dari pada bau hidrogen sulfida.
Suhu air limbah biasanya lebih tinggi dari pada air bersih karena adanya tambahan air hangat dari pemakaian perkotaan. Suhu air limbah biasanya bervariasi dari musim ke musim, dan juga tergantung pada letak geografisnya.
  • Ciri-ciri kimia
Selain pengukuran BOD, COD dan TOC pengujian kimia yang utama adalah yang bersangkutan dengan Amonia bebas, Nitrogen organik, Nitrit, Nitrat, Fosfor organik dan Fosfor anorganik. Nitrogen dan fosfor sangat penting karena kedua nutrien ini telah sangat umum diidentifikasikan sebagai bahan untuk pertumbuhan gulma air. Pengujian – pengujian lain seperti Klorida, Sulfat, pH serta alkalinitas diperlukan untuk mengkaji dapat tidaknya air limbah yang sudah diolah dipakai kembali serta untuk mengendalikan berbagai proses pengolahan. (Linsley.K.R. 1995).

 2.2      Proses Penanganan Air Limbah
          Instalasi Pengolahan Air Limbah ada beberapa metode, salah satunya menggunakan Sistem Fluidized Bed Biofilm Reaktor, dimana dengan system ini digunakan media “Bio-Green”. Unit proses utama dalam system tersebut adalah proses pengolahan biologis secara aerobic atau menggunakan oksigen dalam proses pengolahannya. Untuk itu sangat diperlukan kemampuan teknik proses biologis yang tinggi agar dapat mengontrol mikroorganisme dalam bioreaktor. Mikroorganisme tersebut sangat dipengaruhi oleh factor lingkungan seperti DO, pH, Food/Makanan, nutrients, suhu, material toxic dan keberadaan antibiotic. Dan yang harus diperhatikan benar-benar dalam sistim ini adalah pengontrolan tingkat ketersediaan makanan bagi mikroorganisme dan jumlah mikroorganisme itu sendiri.
Adapun tahapan yang digunakan dalam proses pengolahan air limbah (IPAL) adalah sebagai berikut:
  1. Tahap Pengumpulan, pada tahap ini air limbah dialirkan dari sumbernya melalui system perpipaan yang tertutup dan pada jarak tertentu harus melewati bak control untuk upaya penyaringan awal dari sampah dan pengendapan Lumpur yang dihasilkan dari feaces.
  2. Tahap Pre-Treatment, tahap ini hanya terdapat pada daerah yang menimbulkan limbah, contohnya dapur, hal ini diperlukan karena perlu pengolahan awal dari deterjen dan bahan lainnya yang dihasilkan, dan pengolahan lemak/minyak yang dihasilkan dari dapur karena dapat mempengaruhi bakteri
  3. Tahap Equalisasi/Pengumpulan dan Stabilisasi BOD, pada tahap ini dilakukan pada pumping station 1, station 2, station 3, station 4,  dan Lift Station, pada tahap ini diharapkan dapat dihasilkan BOD yang konstan.
  4. Tahap Penyaringan, tahap ini dilakukan pada Auto Rake Screen dimana melalui tahap ini akan disaring material padat yang dapat merusak mixer dan pompa pada sistim utama. Pada tahap ini diharapkan dapat menurunkan kadar pencemar berupa BOD sebesar 10%, COD 10% dan TSS 80% dari total kadar yang masuk
  5. Tahap Pengolahan di Bioreaktor, sebelum melewati tahap ini air limbah akan ditampung pada Buffer Basin agar dapat menghasilkan Lumpur aktif dan BOD yang konstan, setelah itu dialirkan kedalam bak Fluidized Bed Biofilm Reaktor (FBBR) dimana pada tahap ini terjadi penguraian bahan polutan yang paling besar sehingga dapat dikatakan merupakan tahap ptoses yang paling penting sehingga kondisi alatnya harus dikontrol secara berkala. Pada tahap ini diharapkan dapat menurunkan kadar bahan pencemar berupa BOD sebesar 84,9%, COD sebesar  79,4%, TSS Sebesar 56%, NH3-Free sebesar 98,5 % dan PO4 sebesar 57,4% dari total kadar  yang masuk.
  6. Tahap Pengendapan Lumpur, Pada tahap ini akan terjadi pengendapan lumpur sehingga air limbah yang telah diolah akan terpisah dari lumpur dan kemudian dikumpulkan pada bak treated water.
  7. Tahap Filtrasi, pada tahap ini diharapkan dapat menurunkan kadar bahan pencemar berupa BOD sebesar 25%, COD sebesar 11,1% dan TSS sebesar 62% dari total kadar yang masuk
  8. Tahap Desinfeksi, pada tahap ini dilakukan pembunuhan mikroorganisme yang berbahaya dengan menggunakan cairan Chlor 90% dengan kadar pencairan 0.6 ppm.
Dari tahap-tahap tersebut diharapkan bisa menghasilkan keluaran pengolahan air limbah yang memenuhi nilai standarisasi. Kenyataannya saat ini tidak semua hasil olahan air limbah selalu memenuhi standar baku mutu, hal tersebut disebabkan berbagai macam factor yang antara lain karena masa pakainya sudah cukup lama sehingga ada beberapa mesin kinerjanya sudah mulai tidak optimal sehingga perlu perawatan dan perbaikan, dan bahkan ada yang sudah harus diganti dengan yang baru, kurangnya fasilitas pemantau efektifitas kerja system IPAL sehingga jika ada masalah tidak dapat dideteksi secara dini serta ketersediaan SDM yang bertugas khusus untuk mengawasi jalannya proses pengolahan air limbah yang masih kurang.


BAB III
PENUTUP

3.1       Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan pada BAB II tersebut dapat disimpulkan mengenai proses dalam penanganan limbah cair, Sebagai berikut :
1)      Dapat mengetahui apakah suatu lingkungan itu tercemar atau tidak melalui ciri-ciri yang sudah dijelaskan.
2)      Limbah cair merupakan salah satu limbah yang dapat diolah kembali melalui proses-proses tertentu
3)      Unit proses utama dalam system penanganan ini adalah proses pengolahan biologis secara aerobic atau menggunakan oksigen dalam proses pengolahannya
4)      Hasil dari pengolahan limbah cair tersebut tidak dapat selalu 100% memenuhi standar yang ada.


3.2       Saran
Dilihat dari pembahasan di atas, kita ataupun industri-industri yang menghasilkan limbah-limbah sebaiknya lebih bisa meminimalisirnya. Atau dengan menggunakan meode-metode pengolahan lainnya agar lingkungan ini tetap terjaga. 



DAFTAR PUSTAKA
 
http://rsulin.kalselprov.go.id/berita-137-instalasi-pengolahan-air-limbah-ipal.html